Diatessaron Bahasa Indonesia Pasal 1 – 5

Diatessaron

BAGIAN I.

[1] Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Firman itu adalah [2,3]  Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah, segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan [4] tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu [5] adalah terang manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak ada menguasainya.

[6] Pada zaman Raja Herodes, adalah seorang imam yang bernama Zakharia, dari rombongan Abia; dan istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya [7] Elisabet. Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala [8] perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.  Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab [9] Elizabeth mandul, dan mereka berdua telah lanjut umurnya. Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. dalam rangka pelayanan-Nya di hadapan Allah, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, [10] dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.]itu gilirannya untuk membakar dupa; sehingga ia memasuki [11] rumah Tuhan. Dan seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah [12] waktu pembakaran ukupan. Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri [13]di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan [14] menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya : “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elizabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah [15] engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas [16] kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari [17] rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, [18] Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu [19] umat yang layak bagi-Nya. Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu : “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan [20] istriku sudah anjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya : “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk menyampaikan [21] kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan [22] perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada di dalam Bait Suci. [23] Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, [24] sebab ia tetap bisu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah. [25] Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima [26] bulan tidak menampakkan diri, katanya : “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

[27] Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel  pergi ke [28] sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari [29] keluarga Daud; nama perawan itu Maria Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai , [30] Tuhan menyertai engkau.”  Maria [31] terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu [32] kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan  Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan [33] akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya [34] takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya [35] tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu [36] mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi   akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak [37] Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki  pada [38] hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah [39] tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu .” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

[40] Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju [41] sebuah kota di Yehuda.  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi [42] salam kepada Elisabet.  Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam [43] rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,  lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan  dan diberkatilah [44] buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu [45] Tuhanku  datang mengunjungi aku?  Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, [46] anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.  Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, [47] sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

 

Lalu kata Maria:

[48] “Jiwaku memuliakan Tuhan

[49]dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku ,

[50] sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia

[51] karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar  kepadaku dan nama-Nya  adalah kudus.

[52] Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

[53] Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

[54] Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 

[55] Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

[56] Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,  seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya  untuk selama-lamanya.”

[57]Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya

[58,59] Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, [60] bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan  anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya [61],  tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” [62] Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.”  [63,64]Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes. ” Dan merekapun heran semuanya.  [65] Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan [66] memuji Allah.  Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh [67] pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

[68] Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat,  katanya:
[69] “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
[70] Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud,  hamba-Nya itu,
[71] –seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya  yang kudus–
[72] untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
[73] untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya  yang kudus,
[74] yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham,  bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
[75] supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 
[76] dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
[77] Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
[78] untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,
[79] oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,
[80]untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut  untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera. 

[81] Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

BAGIAN II.

[1] Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, [2] ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. [3] Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat   Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, [4] sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan [5] menamakan Dia Yesus , karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah  yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

[6]  “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki , dan mereka akan menamakan Dia Imanuel  

[7] –yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari [8] tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat  Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai  ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus. 

[9] Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan [10] semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius [11,12] menjadi wali negeri di Siria.   Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud  [13 ] yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– supaya didaftarkan bersama-sama dengan [14] Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika [15] mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan 1 , karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

[16] Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada [17] waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat  Tuhan di dekat mereka dan [18] kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk [19] seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,   yaitu Kristus,   Tuhan ,  [20] di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan [21] terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

[22] “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

[23] Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang [24] diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan [25] Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan [26] apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang [27] apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya [28] dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

[29] Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan,  Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung  ibu-Nya. [30] Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, [31] mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan  , seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung [32] harus dikuduskan bagi Allah “, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam [33] hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur  atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang [34] menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat [35] Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk [36] melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

[37] “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
[38] sebab mataku telah melihat keselamatan  yang dari pada-Mu,
[39] yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
[40] yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.  

[41] Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan [42] tentang Dia.  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan  –[43] dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata [44] pikiran hati banyak orang.” Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan,  anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. [45] Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun.   Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan [46] berpuasa dan berdoa.  Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan [47] berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.  Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret  di Galilea.

BAGIAN III.

[1,2] Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes,  datanglah orang-orang majus  dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi  yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya  di Timur dan kami [3] datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia [4] beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan [5] ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya:

[6] “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.  

[7] Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana [8] bintang itu nampak.  Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, [9] kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”  Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana [10,11] Anak itu berada.  Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia.  Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, [12] kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi,  supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

[13] Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat  Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir  dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari [14] Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu [15] menyingkir ke Mesir,  dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari [16] Mesir Kupanggil Anak-Ku. 

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak  di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan [17]  waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah  firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

[18] “Terdengarlah suara di Rama,

tangis dan ratap yang amat sedih;

Rahel menangisi anak-anaknya

dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

[19] Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat  Tuhan kepada [20] Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” [21] Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke [22] tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi , [23] pergilah Yusuf ke daerah Galilea.  Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret.  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

[24] Anak itu bertambah, dan menjadi kuat dalam roh, menjadi penuh hikmat; dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

[25] Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. [26] Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada [27] hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, [28] tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. [29] Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. [30] Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil [31] mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan [32] kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu  dan aku [33] dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka: “[34] Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” [35] Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

[36] Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

[37] Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes  raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan [38] Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas  menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes,  anak Zakharia, di [39] padang gurun. Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu [40] dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, dan ketika dia berkhotbah di padang gurun Yudea, berkatalah ia : “Kerajaan surga sudah dekat.”

[42] seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun:

[43] Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.

[44] Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,

[45] dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

[46] ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian  tentang terang itu, [47] supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.  Ia bukan terang itu, [48] tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang [49] menerangi setiap orang ,  sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia [50] dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak [51] mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi [52] anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya orang-orang yang diperanakkan [53] bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia,  dan diam di antara kita, dan kita telah melihat [54] kemuliaan-Nya,  yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.  Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, [55] sebab Dia telah ada sebelum aku.  ” Karena dari kepenuhan-Nya [56] kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;  sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. 

BAGIAN IV.

[1] Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah;tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

[2] Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi  dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan [3] orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”[4] Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias. ” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia [5] menjawab: “Bukan!” Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang [6] mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di [7] padang gurun:  Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” Dan [8] di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.  Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” [9] Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri [10] Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari [11] padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

[12] Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang  kulit, dan [13] makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar [14,15] Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki  datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? [16,17] Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat [18] menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan [19] dibuang ke dalam api. Orang banyak bertanya kepadanya: “Jika demikian, [20] apakah yang harus kami perbuat?  ” Jawabnya: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang [21] tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. “Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” [22] Jawabnya: “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes [23] kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” [24] Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya [25] bertanya dalam hatinya tentang Yohanes,  kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air,  tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan [26] Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya  dalam api yang tidak terpadamkan.”

[27] Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak

[28] Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. [29] Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak [30] Yusuf. Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah [31] Anak Domba Allah,  yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada [32] sebelum aku. Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air,[33] supaya Ia dinyatakan kepada Israel.” Tetapi Yohanes mencegah Dia, [34] katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” [35] Dan Yohanespun menuruti-Nya. Ketika semua orang dibaptis, Yesus pun [36] dibaptis dan ketika Dia keluar dari air, maka terbukalah langit [37] dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya , dan turunlah Roh Kudus dalam rupa [38] burung merpati ke atas-Nya lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan : “Inilah [39] Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ” [40] Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, [41] Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah. “[42, 43] Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan. Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Ia [44] berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.  Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam. Dia tidak [45] makanpun sepanjang waktu itu, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi [46] roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, [47] tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.  ”  Kemudian Iblis [48] membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis :

Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.

[49] Yesus berkata kepadanya : “Ada pula tertulis : Janganlah engkau mencobai Tuhan, [50] Allahmu!” Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan [51] dunia . Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah [52] diserahkan kepadaku  dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.”

Bagian V

[1] Maka berkatalah Yesus kepadanya:”Enyahlah, Iblis ! Sebab ada tertulis: [2]Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! “Sesudah [3] Iblis mengakhiri semua pencobaan  itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.  dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. 

[4,5] Pada keesokan harinya Yohanes y berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus [6] lewat, ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah!” Kedua murid itu [7] mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), [8] di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.”Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. [9] Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, [10] saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah [11] menemukan Mesias (artinya: Kristus). Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus). 

[12] Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus,  [13] dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku! ” Filipus itu berasal dari Betsaida, [14] kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael  dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat  dan oleh para nabi, [15] yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?  ”  Kata Filipus kepadanya: “Mari dan [16] lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang [17] Israel sejati, tidak ada kepalsuan  di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya:”Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah [18] pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “[19] Rabi, Engkau Anak Allah,  Engkau Raja orang Israel!  “Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang [20] lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia. ”

[21] Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea.

[22] Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan [23] ibu  Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke [24] perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”[25] Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku [26] belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” [27] Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya [28] dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu [29] penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang [30] cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil [31] mempelai laki-laki,  dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai [32] sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan [33] kemuliaan-Nya,  dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah [34] itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat   di situ dan semua orang [35] memuji Dia. Ia datang ke Nazaret  tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri [36] hendak membaca  dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

[37] “Roh Tuhan ada pada-Ku ,
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
[38] untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan  telah datang.”

[39] Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; [40] dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu [41] mendengarnya.” Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya.

[42] Sejak waktu itulah Yesus memberitakan [43] : “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!. Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat.”

[44] Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea,  Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala [45] di danau, sebab mereka penjala ikan.  Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku,  dan kamu akan [46] Kujadikan penjala manusia .” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti [47] Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang [48] membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

[49] Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, [50] sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang [51] membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit [52] jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah [53] jalamu untuk menangkap ikan. “Simon menjawab: “Guru, telah [54] sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka [55] mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

 

Categories: Agama Kristen | Tags: , | 1 Comment

Diatessaron Bahasa Indonesia

Arabic Diatessaron dalam bahasa Arab dari abad ke-11 diterjehmahkan oleh Abul Faraj Al Tayyeb

Tatian (± 110-180) lahir di daerah Mesopotamia Utara, ia adalah murid dari Yustinus Martir. Tatian menulis suatu karya yang dinamakan DIATESSARON” (Yunani: διὰ τεσσάρων – dia tessarōn, harfiah: “out of four/ dari yang empat”) yang memuat suatu kronologi/ harmonisasi dari ke-empat Injil menjadi satu. Tujuan dari Tatian (juga disebut Tatianus) ini menulis tentang suatu kronologi yang lengkap yang berasal dari ke-4 Injil yang saling melengkapi sekitar tahun 150 – 160.  Tatian berasal dari Siria. Fragmen Diatessaron yang berbahasa Yunani milik Tatian ini berhasil ditemukan di Dura Europos, suatu daerah aliran Sungai Efrat pada tahun 1933.  Perlu dipahami bahwa kalau ada salah satu dari 4-Kitab Injil yang “absen” menulis sesuatu peristiwa, bukan berarti peristiwa itu tidak ada. Jika ada satu Kitab Injil sendirian menulis suatu peristiwa, bukan berarti itu kontradiksi dengan ketiga-nya. Ke-4 Injil saling melengkapi. Ada yang mengatakan bahwa Diatessaron adalah merupakan Injil rangkap empat itu menjadi satu cerita yang bersambung, atau “Harmoni Injil-injil”. Diatessaron pernah menjadi bentuk yang digemari orang, malahan mungkin pernah dianggap sebagai bentuk yang resmi dari kitab Injil rangkap empat dalam gereja Assiria. Sulit memastikan apakah Tatianus saat menuliskan karyanya ini menggunakan bahasa Yunani atau Siria. Tetapi jika ditinjau dari tempat penyusunannya, kelihatannya ditulis di Roma dan bahasa aslinya mungkin bahasa Yunani. Fragmen Diatessaron dari Tatianus yang berbahasa Yunani telah diketemukan pada tahun 1933 di Dura-Europos di daerah aliran sungai Efrat. Bagaimanapun juga, kitab itu telah diberikan kepada orang-orang Kristen Assiria dalam bentuk Siria waktu Tatian pulang dari Roma, dan Diatessaron Siria ini tetap menjadi “Versi Resmi” dari keempat kitab Injil bagi mereka, sampai diganti dengan Peshitta atau versi yang sederhana pada abad kelima. Pada zaman Irenaeus, yang meskipun lahir di Asia tetapi telah menjadi uskup di Lyons di Galia kira-kira tahun 180 M, gagasan kitab Injil rangkap empat telah sedemikian umum diakui di Gereja, hingga ia dapat menyebutnya sebagai hal yang tetap dan diakui sama terangnya dengan keempat arah utama pada kompas atau keempat mata angin.

    “Seperti halnya ada empat bagian bumi yang kita huni dan ada empat mata angin, dan seperti halnya Gereja tersebar di seluruh muka bumi dan Injil adalah tiang dan dasar bagi Gereja dan adalah nafas hidup, maka wajarlah bila bumi mempunyai empat tiang, yang menghirup ketidak- fanaan dari keempat penjuru dan menyalakan hidup manusia secara baru. Oleh karena itu teranglah bahwa Sang Sabda yang adalah arsitek dari segala sesuatu, yang duduk di atas Kerubim dan menggenggam segala sesuatu, setelah Ia menyatakan diri kepada manusia, memberikan kepada kita Injil dalam bentuk rangkap empat, tetapi dijadikan satu oleh satu Roh.”

Sumber : id.wikipedia.org dan Sarapanpagi.org

Berikut adalah terjemahan diatessaron dalam bahasa Indonesia yang referensinya diambil dari

Note : Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan mengacu pada LAI TB. Bukan terjemahan pribadi.

Pasal 6 – 10
Pasal 11 – 15
Pasal 16 – 20
Pasal 21 – 25
Pasal 26 – 30
Pasal 31 – 35
Pasal 36 – 40
Pasal 41 – 45
Pasal 46 – 50
Pasal 50 – 55
Categories: Agama Kristen, Uncategorized | Tags: , | Leave a comment

[VIDEO] PRAKTEK TARI GORONTALO (DANCHA) – SPENSAL 2015

Annyeong haseyo ^^
Kali ini, saya bawa sebuah video tari daerah. ^_^
Namanya Dancha…

Dancha adalah sebuah tarian kreasi yang berasal dari daerah Gorontalo. Dancha yang dibawakan di video ini merupakan jenis dari danca yaitu dancha reggae. Awalnya, video ini berasal dari tugas sekolah adik saya dan rencananya ada pengumpulan like untuk video ini ^^. Mohon bantuannya, ya .  Caranya pergi ke situs youtube yang asli dan like videonya^_^. Ini bisa jadi referensi untuk tarian, loh ^^

Categories: Seni Budaya | Tags: | Leave a comment

Biosfer

Blog teman :v

I Learn by Share

Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung. Biosfer meliputi lapisan litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Ketiga lapisan tersebut saling berinteraksi dan membentuk lapisan biosfer tempat ditemukannya kehidupan di bumi. Selain itu, biosfer juga diartikan sebagai bagian dari Bumi dan atmosfernya di mana organisme dapat hidup dan melangsungkan kehidupannya. Dengan kata lain, hanya di biosferlah sistem kehidupan dapat ditemukan.

A. Persebaran Bioma dunia

a) Hutan Tropis

Ditemukan diwilayah khatulistiwa dimana iklim hujan dan kemarau seimbang dan curah hujan tinggi. Ciri-ciri dari hutan ini antara lain :

View original post 82 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Litosfer

Blog teman ‘-‘

I Learn by Share

      Litosfer adalah kulit terluar dari planet berbatu. Litosfer berasal dari kata Yunani, lithos yang berarti berbatu, dan sphere yang berarti padat. Litosfer berasal dari kata lithos artinya batuan, dan sphere artinya lapisan. Secara harfiah litosfer adalah lapisan Bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan kulit Bumi. Pada lapisan ini pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Si02, itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat dan memiliki ketebalan rata-rata 30 km yang terdiri atas dua bagian, yaitu Litosfer atas (merupakan daratan dengan kira-kira 35% atau 1/3 bagian) dan Litosfer bawah (merupakan lautan dengan kira-kira 65% atau 2/3 bagian).

View original post 1,302 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

My OSN Memories In Padang (Memori Di Padang)

Foto-foto waktu OSN 2014 di Padang ^^
Very missed it

DSC08199DSC08158  DSC08228DSC08234DSC08241DSC08258DSC08260IMG03682-20140515-1947IMG03684-20140515-1958IMG03692-20140516-0914IMG03691-20140516-0757IMG03712-20140519-1011IMG03713-20140519-1011IMG03714-20140519-1011IMG03715-20140519-1011IMG03716-20140519-1011IMG03766-20140519-1310IMG03780-20140520-1002IMG03779-20140520-1002IMG03773-20140519-1443IMG03769-20140519-1310IMG03767-20140519-1310IMG03789-20140520-1037IMG03788-20140520-1036IMG03786-20140520-1035IMG03785-20140520-1035IMG03784-20140520-1034IMG03797-20140520-1537IMG03796-20140520-1536IMG03793-20140520-1536IMG03792-20140520-1536IMG03790-20140520-1043IMG03803-20140520-1538IMG03801-20140520-1537IMG03800-20140520-1537IMG03799-20140520-1537IMG03798-20140520-1537IMG03820-20140520-1548IMG03819-20140520-1544IMG03818-20140520-1544IMG03817-20140520-1542IMG03816-20140520-1542IMG03814-20140520-1541IMG03813-20140520-1540IMG03812-20140520-1540IMG03810-20140520-1539IMG03809-20140520-1539IMG03807-20140520-1538IMG03806-20140520-1538IMG03805-20140520-1538IMG03804-20140520-1538IMG03719-20140519-1012IMG03720-20140519-1013IMG03721-20140519-1204IMG03723-20140519-1205IMG03690-20140516-0725IMG03689-20140516-0717IMG03686-20140515-2123IMG03693-20140516-1002IMG03699-20140516-1023IMG03706-20140518-2123IMG03707-20140518-2123IMG03723-20140519-1205IMG03724-20140519-1205IMG03725-20140519-1206IMG03726-20140519-1206IMG03749-20140519-1227IMG03747-20140519-1226IMG03739-20140519-1215IMG03734-20140519-1209IMG03730-20140519-1207IMG03766-20140519-1310IMG03765-20140519-1307IMG03764-20140519-1306IMG03762-20140519-1305IMG03761-20140519-1259IMG03758-20140519-1256IMG03756-20140519-1253IMG03754-20140519-1253IMG03753-20140519-1229IMG03750-20140519-1228

Thank you for viewers :3

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

How to Pronounce Indonesian Alphabet

Hello, everyone ^^
Now, we will studying about how to pronounce Indonesian alphabet.
Believe me that this material is not difficult for you :v
Escpecially, the people who know IPA or International Phonetic Alphabet

Let’s go to study it.

capture-20141107-192236

So, we can make the many conclude about that. I will give the example.

1. ‘Because’ in Indonesian is ‘Karena’. How to pronounce ‘karena’ is :

– ‘Ka’ = ‘Ca’ in ‘Because’
– ‘Re’ = ‘Re’ in ‘Red’
– ‘Na’ = ‘No’ in ‘Now’

2. ‘Park’ in Indonesian is ‘Taman’. How to pronounce ‘taman’ is :

– ‘Ta’ = ‘Thu’ in ‘Thumb’
– ‘Ma’ = ‘Ma’ in ‘Market’
– ‘N’ = ‘N

3. ‘Candle in Indonesian is ‘Lilin’. How to pronounce ‘lilin’ is :

– ‘Lili’ = ‘Lily’ in ‘Lilin’
– ‘N’ = ‘N

4. ‘Expensive’ in Indonesian is ‘Mahal’. How to pronounce ‘mahal’ is :

– ‘Ma’ = ‘Ma’ in ‘Market’
– ‘Hal’ = ‘Hol’ in ‘Holler’

5. ‘Attention’ in Indonesian is ‘Perhatian’. How to pronounce ‘perhatian’ is :

– ‘Per’ = ‘Per’ in ‘Perfect’
– ‘Ha’ = ‘Ho’ in ‘How’
– ‘Ti’ = ‘Ti’ in ‘Tie’
– ‘An’ = ‘Un’ in ‘Under’

Ok… I think that’s all. ^^
So, if you want about Indonesian alphabet to me…
This is my email : brayen.febriozusriadi00@gmail.com

Categories: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris | Tags: | Leave a comment

[Cerpen] Toar dan Hulawa versi Teks

안녕핫임니가 !!

Susahnya nulis entah benar atau gak….
Setelah beberapa waktu lalu, aku membagikan versi downloadnya…
Sekarang aku akan melengkapinya melalui versi teks.

Bagi yang mau melengkapi tugas cerpen dengan unsur kedaerahan dan budaya lokal,
Download dibawah sini, yah …

DOC |  PDF

Silahkan dibaca ^^

capture-20141008-222215

Toar dan Hulawa

Dahulu kala, terdapat dua kerajaan dan negeri yang bertetangga. Nama dua kerajaan dan negeri tersebut adalah Hulonthalangi dan Minahasa. Kedua pemimpin dari negeri dan kerajaan masing-masing sangat akur dan menjalin pertemanan yang erat.

Namun, rakyat-rakyatnya memiliki sifat yang berbeda. Mereka saling bermusuhan satu sama lain. Sering sekali ditemukan konflik-konflik menimpa satu kubu yang tidak diawali oleh kubu lainnya.

Suatu ketika, Putri dari negeri Hulonthalangi menyusuri sebuah sungai yang bernama sungai Bone. Putri itu bernama Hulawa. Dirinya sangat senang menikmati eloknya sungai tersebut.

Saking tertariknya, dia bahkan lupa dengan batas negerinya dan mulai menyeberangi wilayah kerajaan lain, yaitu wilayah kerajaan Minahasa. Dayang-dayang yang mengikutinya pun juga kebingungan mencarinya.

“Semakin ke sini, tanaman dan hewannya semakin menarik untuk dilihat.” Ucapnya sambil terus berjalan.

Perjalanannya tersebut dilihat oleh salah satu pengawal dari Pangeran Minahasa yang sedang beristirahat dari kegiatan berburu mereka. Pengawal tersebut mengenali Hulawa. Dilaporkannya gadis yang dilihatnya kepada Pangeran Minahasa yang bernama Toar.

Toar langsung berdiri dan menuju ke tempat Hulawa berada. Kini, dia melihat Hulawa dengan mata kepalanya sendiri. Dicobanya untuk berbicara dan memberitahu wilayahnya kepada Hulawa.

“Wahai gadis, kenapa kau berada disini?” Ucap Toar dengan sopan.

“….” Hulawa tidak menjawab perkataannya. Toar berpikir bahwa mungkin Hulawa tidak mendengarnya dengan baik. Didekatinya Hulawa beberapa langkah lagi.

“Wahai gadis, kenapa kau berada disini?” Ucap Toar sekali lagi kepadanya dengan suara yang lebih keras.

Namun, Hulawa tidak menggubris perkataannya. Dia terus berjalan dan berbuat seolah-olah tak ada yang terjadi. Toar menjadi geram dengan kelakuan Hulawa. Didekatinya Hulawa sekali lagi sampai dia berada di hadapannya.

“Kenapa kau berada disini?” Ucap Toar dengan nada bicara yang lebih tinggi.

“Terserah diriku. Mau berada di sana atau di sini. Itu bukanlah urusanmu.” Jawab Hulawa dengan santai.

“Tidak tahukah kamu bahwa ini adalah wilayahku?” Wajah Toar mulai memanas.

“Memangnya kenapa?” Hulawa mulai terusik dan membalas perkataan Toar.

“Dasar kau..” Pangeran mengangkat tangan dan hendak melayangkannya kepada Hulawa. Tetapi, hal tersebut dicegah oleh prajuritnya.

Dayang-dayang dari negeri Hulonthalangi yang melihat kejadian tersebut pun menyelamatkan Hulawa dari Toar. Hulawa segera mengikuti saran dari dayang-dayang untuk kembali ke negerinya. Namun, dia masih merasa kesal dengan sikap Toar yang tidak dikenalnya tersebut.

Di lain pihak, Toar juga merasa jengkel dengan sikap Putri tersebut. Kejenuhannya tersebut membuatnya tidak ingin lagi berniat untuk berburu hewan apapun di hutan. Prajuritnya pun sampai di pusat kerajaan.

Di tengah kota, terdapat  banyak pasar yang melingkupi pusat kerajaan. Banyak pedagang yang berjualan di tepi kota. Dari pedagang buah-buahan sampai pedagang ikan ikut ambil andil dalam kegiatan perekonomian kerajaan tersebut. Mereka menyambut Toar dengan ramah.

“Selamat datang, Pangeran.” Sambut rakyat dengan hangat.

“…” Pangeran tidak menjawab.”

“Persilahkan Pangeran untuk lewat dulu.” Ujar salah satu prajuritnya. Rakyat jadi bertanya-tanya mengenai sikap Toar yang tidak seperti biasanya. Di kerajaannya, Toar dikenal sebagai orang yang murah senyum kepada orang lain.

Toar pun sampai di hadapan raja dengan wajah yang kekesalannya masih terlihat jelas. Raja Minahasa yang bernama Kairupan merasa bingung dengan sikap anaknya dan segera turun dari singgasananya.

“Apa yang terjadi, anakku?” Ujar Raja.

“Gadis dari seberang melewati batas melewati wilayah kerajaaan kita.”

“Jadi begitu permasalahannya. Biarkanlah hal tersebut berlalu.”

“Kenapa harus berlalu? Dia seolah-olah mempermainkan wilayah kerajaan kita.”

Raja menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putranya. Dijelaskannya kepada Toar untuk selalu bersikap toleransi dengan masyarakat lain yang bahkan tidak dikenalnya sekalipun. Akhirnya, Toar mengerti dan menjalankan apa yang diucapkan oleh Raja.

Toar pergi menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang tak bersemangat. Dia tidak memahami apa yang sebenarnya dipikirkan ayahnya. Konsep toleransi yang ada di benaknya berbeda dengan ayahandanya tersebut. Namun, dia berusaha untuk membiarkan semuanya berlalu dan memilih untuk tidur.

Di tempat lain, Hulawa juga mengabarkan hal yang sama kepada ayahnya yaitu Ilato. Namun, Raja tersebut juga memiliki pendapat yang sama dengan Kairupan. Dikatakannya secara terus terang bahwa dia berteman baik dengan Raja kerajaan seberang.

Setelah Hulawa pergi, Panglima perang negeri Hulonthalangi menghadap Ilato. Dia menyarankan agar Hulonthalangi segera memperluas wilayah sehingga tidak terjadi kejadian seperti ini.

“Baginda Raja, kenapa Baginda tetap bersikeras untuk tidak menaklukkan wilayah lain?”

“Panglimaku, tujuan dari hidupku sebagai Raja adalah menciptakan ketentraman dan kemakmuran untuk seluruh rakyatku.”

“Tapi, seperti yang kita ketahui. Rakyat juga menginginkan hal tersebut. Mereka ingin membuktikan bahwa Hulonthalangi adalah negeri yang hebat dibandingkan Minahasa.” Panglima mempertahankan pendapatnya sendiri.

“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Hidupku adalah untuk menciptakan ketentraman dan kemakmuran bagi rakyat. Aku tidak ingin menciptakan perang.” Ilato tetap menasihatinya dengan tenang. Panglima pun segera keluar dan meninggalkan tempat Ilato. Walau bagaimana pun, dia tetap tidak menerima pendapat Ilato.

Tiba-tiba, Ilato mendapatkan sebuah ide. Akhirnya, dia mendapatkan cara untuk mengakrabkan seluruh rakyatnya dengan rakyat dari kerajaan Minahasa. Dia menyuruh setiap pasukan untuk mempersiapkan kunjungan kebangsawanan.

ç==============================================================è

Pagi harinya, seluruh pasukan negeri Hulonthalangi bersiap-siap untuk melakukan pertemuan diplomasi. Ilato bersama putrinya, Hulawa, juga ikut dalam perjalanan tersebut sampai akhirnya mereka sampai di perbatasan Hulonthalangi dan Minahasa.

Hulawa memilih memisahkan diri dari rombongan. Dia tidak suka mengikuti segala hal yang dianggapnya rumit. Disandarkan badannya kepada sebuah pohon yang rindang dan terasa sejuk. Angin sepoi-sepoi yang berhembus semakin menambah rasa sejuk dari tempat itu.

“Huh, akhirnya aku bisa keluar dari rombongan yang membosankan itu.” Ucapnya sambil bersandar.

“Iya, aku juga.” Ujar orang lain dari balik pohon tersebut. Hulawa terkejut mendengar suara seseorang yang membalas perkataannya itu. Orang itu juga sama terkejutnya dengan Hulawa. Mereka sama-sama berdiri dan menghadap satu sama lain.

“Kau…Kenapa berada disini?” Mereka sampai tidak sadar mengucapkannya bersamaan.

“Ini adalah tempatku.” Balas Toar.

“Tidak. Aku yang menemukannya pertama kali.” Sambung Hulawa yang tak mau kalah dengan Toar.

Tiba-tiba, Kairupan dan Ilato mendekati tempat dimana Toar dan Hulawa saling beradu mulut. Mereka tidak mau untuk mengalah satu sama lain. Masing-masing mempertahankan apa yang dianggapnya benar.

“Wah, kalian sudah berkenalan ternyata.” Mulai Kairupan.

“Sepertinya begitu. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.” Sambung Ilato.

“A-Apa maksud, Ayah?” Tanya Hulawa dan Toar bersamaan.

“Sebenarnya kalian berdua akan dijodohkan untuk mempererat persaudaraan antara kerajaan Minahasa dan Negeri Hulonthalangi.” Balas Kairupan.

“Selain itu, Ayah rasa kalian berdua benar-benar cocok.”

“Tidak… Ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak ingin dijodohkan dengannya.” Rengek Hulawa.

“Aku juga tidak ingin. Siapa bilang mau denganmu?” Balas Toar.

Prajurit dari kerajaan Minahasa dan pasukan Hulonthalangi datang untuk melihat apa yang terjadi kepada Toar dan Hulawa. Mereka menyaksikan adu mulut yang dilakukan oleh Toar dan Hulawa.

“Jangan mengganggu putri kami.” Sebuah senjata berupa sabele melesat ke arah Toar. Dia terdiam dan takut melihat sabele tersebut dari kerajaan lain.

“Kalian. Jangan melukai Pangeran kami.” Keris pun melayang ke arah Hulawa. Kini, Hulawa yang ikut terdiam melihat keris tersebut. Dia menjadi lebih takut dengan keadaan yang terjadi sekarang.

Kairupan dan Ilato segera melerai ketegangan yang terjadi antara prajurit Minahasa dan pasukan Hulonthalangi. Mereka merangkul putra dan putri mereka masing-masing. Mereka pun mendekatkan diri satu sama lain.

“Kalian salah sangka. Mereka adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta.” Ucap Kairupan.

“Ya, benar. Lihatlah ekspresi mereka yang bahagia.” Sambung Ilato.

Toar dan Hulawa pun terpaksa berekspresi senang. Mereka tidak ingin perang terjadi antara dua kubu masing-masing. Selain tidak ingin, mereka juga takut akan senjata-senjata yang hampir mengenai mereka tadi.

ç==============================================================è

Beberapa waktu kemudian… Di dekat danau Limboto. Toar dan Hulawa berjalan di tepi danau Limboto dan masih mengenakan baju adat mereka masing-masing.

“Aku menyesal dengan pilihanku tadi.” Mulai Toar.

“Menurutmu hanya kau saja? Aku juga sama.” Balas Hulawa.

“Aku mau bukan karena aku suka. Tetapi, karena aku ingin melindungi kerajaanku dari peperangan.” Toar mengucapkannya dengan nada yang lebih sopan.

“Ya, aku juga sama.”

Mereka mengingat kembali bahwa mereka belum berkenalan dengan baik sebelumnya. Toar memberitahu namanya dan begitu juga Hulawa. Mereka menjadi lebih dekat setelah kejadian tadi. Bukan karena dari hati mereka, namun karena pasukan dari kedua kerajaan mengawasi mereka dari dekat.

“Toar, aku menjadi lebih ngeri sekarang.” Ungkap Hulawa.

“Iya, Hulawa. Sepertinya kita harus tetap menjalani ini sampai seterusnya.” Balas Toar dengan melihat-lihat sekeliling danau tersebut. Mereka merasa tidak tenang dengan keberadaan dua pasukan kerajaan mereka.

“Hei, Toar. Lihatlah sana.” Hulawa menunjukkan tangannya ke arah barat danau Limboto. Toar pun melihat ke arah yang ditunjukkan Hulawa. Waktu sudah senja dan matahari akan terbenam sesaat lagi.

“Betapa indahnya terbenamnya mentari itu.” Toar sangat kagum dengan keindahan matahari. Dia belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Mereka berdua bersama-sama menikmati keindahan tersebut tanpa saling adu mulut lagi.

“Sepertinya mereka memang jatuh cinta satu sama lain.” Pasukan yang lain menganggukkan kepala mereka.

“Kalau begitu, kita harus berdamai juga.” Salah seorang pasukan mengajukan perdamaian. Tak disangka, semua pasukan pun setuju dengan perkataannya. Mereka lebih memilih untuk menancapkan bendera perdamaian dibandingkan dengan berperang.

ç==============================================================è

Keesokan harinya, tersebarlah berita mengenai perjodohan Toar dan Hulawa ke seluruh penjuru kerajaan. Berita tersebut disebarkan oleh pasukan kedua kerajaaan. Baik dari kerajaan Minahasa maupun negeri Hulonthalangi, masing-masing menyambut kabar tersebut dengan suka cita. Konflik di daerah perbatasan pun hampir tidak terdengar lagi.

“Melelahkan juga bersikap seperti ini.” Ucap Toar.

“Aku malah lebih lelah dibandingkan dirimu.” Balas Hulawa dengan nada yang menganggap remeh Toar.

“Sudahlah. Lanjutkan saja perjalanannya.” Toar tidak ingin memperpanjang masalah lagi.

Toar memandu Hulawa untuk menjelajahi setiap sudut di pusat kerajaannya. Banyak sekali terdapat pasar tradisional. Setiap kios berjajar rapi dan menjual berbagai keperluan sehari-hari.

“Banyaknya pasar tradisional menopang perekonomian di kerajaan Minahasa tersebut.” Jelas Toar. Namun, Hulawa sibuk bercanda tawa dengan pedagang-pedagang di pasar tersebut.

“Wah, Pangeran sama Putri. Kapan hari jadinya?” Ucap salah seorang penjual kepada mereka. Toar dan Hulawa menatap satu sama lain bersamaan.

“Belum pasti, ibu.” Ucap Toar sambil berpura-pura bahagia.

“Iya, ibu. Belum pasti.” Hulawa juga sepakat mengatakan hal tersebut kepadanya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dan mengunjungi setiap sudut pasar. Setiap kali melewati sebuah kios, mereka selalu disambut dengan ramah oleh setiap pedagang dan penjual. Mereka pun tidak menyangka sikap seluruh rakyat berubah secara drastis akibat perjodohan mereka.

“….” Toar menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa, Toar?” Hulawa bertanya kepadanya.

“Aku rasa perjodohan kita ini ada baiknya juga.” Hulawa menjadi terdiam mendengar perkataan Toar. Kedua pipinya mulai memerah setelah mendengar ucapan tersebut. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.

“Ketipu…Siapa bilang mau?” Toar mengejek Hulawa yang menanggapi dengan serius.

“Kau ini.. Takkan kubiarkan dirimu hidup saat ini.” Raut kecewa sempat tergambar di wajahnya.

Dia lebih memilih untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Toar saat ini. Dikejarnya Toar yang lari setelah menipunya. Walau bagaimanapun, dia tetap tidak bisa mengejar Toar.

Dari kejauhan, seseorang melihat keakraban mereka berdua. Orang itu adalah Panglima. Dia mengamati Toar dan Hulawa yang sedang bercakap-cakap. Dia masih ragu apakah Toar dan Hulawa benar-benar saling menyukai atau tidak.

“Kalau berita mengenai hal tersebut benar. Maka kesempatan untuk menaklukkan wilayah lain akan menjadi sia-sia. Minahasa harus ditaklukkan oleh negeri ini.” Gumamnya dalam hati.

Kembali diamatinya mereka dengan seksama. Mereka terlihat cocok namun sering juga bertengkar. Akhirnya, Panglima merancang-rancang sebuah rencana licik kepada mereka berdua.

ç==============================================================è

Hari ini, seseorang utusan memberitahu Toar bahwa Hulawa ingin bertemu dengannya di sebuah perkampungan Hulonthalangi yang bernama Taludaa. Dengan langkah yang tak bersemangat, Toar segera mengganti pakaiannya.

Toar pun pergi ke perkampungan tersebut. Dia sengaja tidak memberitahu prajuritnya yang lain karena tidak ingin diawasi oleh mereka. “Huh, apa lagi yang akan terjadi setelah ini?’ Gerutunya.

Sesampainya di sebuah rumah yang dimaksudkan, Toar masuk ke dalam rumah tersebut. Dilihatnya sekeliling rumah tetapi tidak ada siapapun. Toar mulai bergegas masuk ke ruangan lainnya.

Toar terkejut. Ditemukannya sesosok mayat laki-laki pucat pasi dan terbujur kaku di sebuah kamar. Dia keluar dari kamar tersebut dan bermaksud ingin meminta pertolongan orang lain.

Kini, dia merasa lebih kaget. Banyak suara masyarakat dari luar rumah tersebut. Suara-suara itu terasa semakin bertambah banyak.

“Keluar dari rumah itu, Pembunuh.” Teriak seorang masyarakat

“Ya, benar. Keluarlah sekarang juga.” Sahut masyarakat yang lain.

Hulawa yang saat itu sedang menikmati kesejukan desa merasa penasaran dengan kerumunan massa pada sebuah rumah. Didekatinya kerumunan tersebut dan melihat dengan lebih jelas apa yang terjadi.

“Dengarkan aku. Aku hanya melihat orang itu dan ingin melaporkannya. Aku tidak mungkin membunuhnya.” Ucap Toar sambil berusaha menjelaskan keadaan yang dialaminya.

“Tidak mungkin seperti itu. Penjahat tidak ada yang mau mengaku.” Ujar masyarakat lainnya sehingga masyarakat juga ikut terpanas-panasi.

“Toar…” Panggil Hulawa dari arah kejauhan. Masyarakat ikut terkejut melihat kehadiran putri kerajaan diantara mereka. Mereka membuka jalan untuk putri dengan rapi.

“Hulawa…” Toar segera menuju ke arah Hulawa. Sekali lagi, dia memberitahu kepada Hulawa bahwa dia tidak membunuh orang yang berada di rumah tersebut.

“Prak…” Hulawa melayangkan tangannya kepada Toar. Selanjutnya, dia menjelaskan kepada masyarakat supaya tenang dan memfokuskan diri untuk mengatur pemakaman orang itu. Setelah itu, Hulawa menarik tangan Toar dan pergi bersamanya.

“Kau..Jangan bilang kau percaya. Atas tuduhan…” Toar memulai pembicaraan namun terhenti oleh ucapan Hulawa.

“Sst…Aku tahu kamu hanya dijebak. Masa orang sepertimu berani membunuh orang lain.” Ujarnya dengan setengah mengejek.

“Kau ini memuji atau mengejek sih.” Toar menjadi kesal dengan hal tersebut. Hulawa menenangkannya dan tidak memperpanjang masalah. Toar pun menyetujui sarannya. Namun, mereka masih belum tahu bahwa kabar buruk mengenai Toar telah menyebar sekarang.

ç==============================================================è

Setelah kejadian tersebut, Toar dan Hulawa pergi ke negeri mereka masing-masing. Walaupun masalah sudah selesai, Toar masih merasa takut dengan fitnahan yang dituduhkan kepadanya beberapa saat lalu. Dia merasa beruntung karena Hulawa mau membantunya untuk bisa keluar dari fitnah tersebut.

“Aku pulang,Ayah.” Salam Toar kepada Kairupan yang sedang duduk di singgasana istana tersebut.

“Dari mana saja kamu?” Tanya Kairupan kepadanya dengan tatapan geram. Kedua matanya serius menatap Toar. Toar menjadi terkejut dengan sikap Kairupan yang berubah menjadi berbeda.

“A-Aku habis dari kampung menemui Hulawa.” Ucap Toar dengan terbata-bata. Dia tidak bisa berbicara terlalu banyak lagi.

“Mulai sekarang. Jangan berhubungan dengan dia lagi. Kerajaan kita akan berperang dengannya.” Kairupan berdiri dan mendekati Toar yang terlihat ketakutan. Dipegangnya pundak Toar dan melanjutkan ucapannya

“Tenang anakku. Ayah sudah mendengar semuanya. Itu bukan kesalahanmu. Mereka hanya mencari cara untuk berperang. Karena mereka memulai, ayah akan menyelesaikan hal tersebut.” Sambung ayahnya.

Kini, Toar tahu bahwa ayahnya telah mendengar fitnah yang ditujukan kepadanya. Dia tidak akan menyangka berita ini bisa dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kerajaan terutama ayahnya. “Bagaimana bisa?” Gumamnya dalam hati. “Pasti ada yang memberitahu ayah mengetahui kejadian ini.” Gumamnya lagi.

Kalbunya serasa gundah. Pertama kalinya, dia merasakan sesuatu hal yang menusuk hatinya. “Bagaimana bisa peperangan dimulai hanya karena kabar yang tidak benar ini?” Hatinya kian mencari-cari jawaban apa yang patut diberitahukan kepada ayahnya. Namun, dia tidak menemukan hal tersebut. “Apa yang akan dilakukan Hulawa, ya?”

Di tempat lain, Hulawa yang baru saja pulang dari pertemuannya dengan Toar dibentak oleh ayahnya. Hulawa merasa terkejut karena ketidak tahuannya mengenai apa yang membuat ayahnya marah.

“Kamu ini Putri ayah atau bukan. Membela orang yang seharusnya disalahkan?” Setelah kata-kata tersebut terucap, Hulawa menjadi mengerti apa yang dimaksud ayahnya. Berita mengenai tuduhan pembunuhan yang dilakukan Toar telah sampai ke ayahnya.

“Dari mana Ayah mengetahuinya? Dia bukanlah orang yang seperti itu.” Hulawa bersikeras untuk menjelaskan ayahnya mengenai apa yang dianggapnya benar. Namun, ayahnya tak mempedulikan ucapan Hulawa tersebut.

“Ayah mengetahuinya dari seorang saksi mata dari kejadian. Yang terpenting adalah tidak ada kata tapi ini.. tapi itu…Jangan berhubungan dengan orang seperti itu lagi.” Kini, Hulawa hanya terdiam dan akhirnya mengangguk tanda setuju kepada ayahnya. Sebenarnya, dia tidak ingin mendengar kata-kata tersebut terlontar dari mulut ayahnya.

Namun, apa daya yang bisa dilakukannya. Dia segera masuk ke kamar dan mengunci diri di dalam kamarnya tersebut. Merenungkan apa yang akan terjadi pada hari esoknya pun, hatinya sekarang pun tak sanggup.

ç==============================================================è

Senja telah berlalu dan malam telah menyapa. Suhu udara yang dingin kian menyengat kulit. Langit tak dipenuhi lagi oleh kelap-kelipnya bintang yang menawan maupun mempesona.

“Kira-kira… Apa yang dilakukan oleh Toar sekarang, ya?” Hulawa mulai berkhayal mengenai Toar dan dirinya. Pertemuan pertama dengannya, mereka berdua masih tidak bisa memaafkan kesalahan masing-masing.

Pertemuan kedua sangatlah mengejutkan karena mereka dijodohkan oleh ayah masing-masing. Namun, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Hubungan mereka dilarang oleh seluruh rakyat baik dari negerinya maupun dari kerajaan Toar.

“Ah, ngapain juga mikirin dia. Dia kan orang yang sama sekali tidak peka. Aku seharusnya beristirahat malam ini.” Hulawa merapikan tempat tidurnya. Sebelum dia bergegas untuk tidur, terdengar sebuah suara dari jendela kamarnya.

“Tok..Tok..Tok..” Seseorang mengetuk jendela kamarnya tersebut. Dibukanya jendela kamar tersebut dan terkejut. “Toar, kenapa kau berada disini?” Hulawa tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya itu.

“Keadaan sudah menjadi gawat. Kerajaanku akan menyerang negeri ini di saat fajar akan menyingsing.” Toar tidak bisa bernafas dengan baik. Nafasnya terengah-engah mengabarkan hal tersebut kepada Hulawa.

“Gawat. Kenapa peristiwa-peristiwa yang terjadi semakin memburuk saja?” Hulawa terlihat panik juga cemas mengetahui berita tersebut dari Toar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana peperangan akan berlangsung dan menumpahkan banyak darah orang-orang yang salah paham.

Toar telah mempertimbangkan langkah-langkah yang seharusnya mereka berdua lakukan. Pertama-tama, Hulawa akan mencari tahu siapa yang mengabarkan berita tersebut kepada ayahnya. Saat itu juga, Toar akan pergi ke perkampungan untuk mencari informasi mengenai orang yang terbunuh saat itu.

Toar berharap bahwa dalang dari penyebar berita ini akan bisa segera diketahui sebelum mentari bersinar pada pagi hari. Hulawa mengikuti perintah Toar. Mereka berdua lekas menjalankan tugasnya masing-masing.

Hulawa membangunkan dayang-dayang yang biasanya mendampinginya. Walaupun kantuk masih terasa, dayang-dayang tersebut terpaksa bangun dari tidur mereka. Dia seperti menginterogasi dayang-dayangnya itu.

“Sudah kubilang, Hulawa. Jangan terusik mengenai hal itu lagi. Bergegaslah untuk tidur.” Dayang-dayang tidak mempedulikan pertanyaan Hulawa. Namun, Hulawa tetap bertekad untuk menanyakan hal penting tersebut kepada mereka.

Dengan mata setengah tertutup, mereka mengungkapkan bahwa saksi mata mengakui bahwa dia adalah penduduk kampung itu sendiri. Hulawa kembali bertanya mengenai ciri-cirinya saksi tersebut. Mereka pun membeberkan beberapa ciri-ciri.

Hulawa memahami dengan seksama.apa yang disampaikan oleh dayang-dayangnya. Walaupun demikian, dia belum mampu menangkap rencana apa yang sebenarnya diinginkan oleh pelaku. Dia merenungkan kembali hal tersebut.

“Jikalau saksi itu adalah orang kampung yang memberitahu mengenai terbunuhnya salah seorang warga. Maka, orang itu tidak lain adalah… Tidak mungkin. Toar terancam bahaya.”

Di tempat yang berbeda, Toar pergi mencari tahu mengenai latar belakang orang yang terbunuh. Selama perjalanan, Toar merasa diawasi oleh banyak mata. Dia berlari dan berusaha menghindari dari pandangan mata-mata tersebut. Meski tidak lenyap dengan seketika, Toar akhirnya bisa sampai ke perkampungan dengan selamat.

Awalnya, beberapa penduduk enggan mengungkapkannya karena merasa takut untuk berbicara mengenai hal tersebut. Tetapi, penduduk-penduduk tersebut lebih takut dengan perang yang akan terjadi. Seorang dari mereka pun menceritakannya kepada Toar.

“Jadi, bagaimana riwayat hidup orang tersebut?” Ujar Toar kepada salah satu penduduk di salah satu rumah mereka.

“Dia adalah orang yang sering membangkang pemerintahan dari kerajaan dengan tidak membayarkan pajak khusus.”

“Apa? Pajak khusus? Aku baru mendengar hal itu untuk pertama kalinya.” Toar menjawab dengan penuh heran.

“Benarkah? Berarti berita mengenai pajak khusus bukan amanat pemerintahan adalah benar.”

“Siapa? Sebutkan siapa yang menyuruh kalian untuk memberikan pajak khusus kepada pemerintah?”

“Di-Dia… Orang itu adalah Jen..” Belum sempat dia melanjutkan ucapannya. Sebuah parang menusuk punggungnya. Orang itu terjatuh dan terkulai lemas dengan darah yang bercucuran di tanah.

Toar melihat pemuda tersebut yang menghunjamkan sebuah sabele ke punggung penduduk yang sedang berbicara dengannya. “Ka-Kamu… Bukannya kamu adalah salah satu orang yang memanasi penduduk lain? Berarti, kamu juga yang membunuh orang tersebut dan melimpahkan hal itu kepadaku.”

“Kalau benar hal seperti itu terjadi. Manakah buktinya?” Dia mendekati penduduk yang baru dibunuhnya dan mencabut senjatanya tersebut. Dibersihkannya darah yang terdapat di sabele tersebut menggunakan sapu tangan yang diambilnya dari pakaiannya. Perlahan tapi pasti, didekatinya Toar yang melihat sekeliling rumahnya untuk mencari jalan keluar.

Setelah mendapatkan celah, Toar pun bertekad meloloskan diri. Namun, orang tersebut tetap saja mendominasi pergerakannya. Dia tidak bisa bergerak dengan lebih leluasa. Dia terlihat sangat terlatih dengan hal seperti ini.

“Siapa? Sebutkan siapa tuanmu?” Ucapnya sambil berhati-hati untuk melangkahkan kakinya. Selain itu, sebentar lagi matahari akan menyinari bumi dengan secepatnya. Dia tidak bisa berlama-lama lagi. Tetapi, dia juga tidak bisa pergi dengan situasi yang seperti ini.

Detik maupun detik terus berlangsung dengan cepat tanpa dirasakannya. Kini, dia sudah berada di ujung lembah yang curam. Kakinya tak bisa mundur lebih jauh karena di dalam lembah tersebut dipenuhi oleh batu-batuan yang tentunya akan mampu meremukkan tubuh.

Jika dirinya jatuh, maka peperangan tidak akan bisa dicegah. Dia hanya memiliki dua pilihan saja dibunuh atau mati dengan tulang yang patah. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Toar merasa merinding. Belum apabila hal yang dipikirkannya tersebut terjadi.

“Koak.. Koak…” Banyak burung gagak yang seolah ingin mengabarkan kematiannya. Fajar akan datang beberapa menit lagi. Toar tak tahu apa yang akan dilakukannya. Di depannya ada pembunuh, di bawahnya terdapat jurang, ditambah dengan suara gagak yang terus berteriak kepadanya.

“Untuk ucapan selamat tinggalmu, aku akan memberitahu siapa orang yang merupakan atasanku. Dia adalah…”. Orang tersebut sengaja memberhentikan kalimatnya dan mulai mendekati Toar lagi.

“Orang itu adalah Jenderal negeri Hulonthalangi.” Teriaknya sambil mengejutkan Toar yang serius mendengarnya. “Krek..” Segenggam batu jatuh ke jurang yang terjal tersebut dan langsung menghancurkannya. Toar menjadi lebih takut lagi apabila nasibnya akan menjadi seperti batu itu. “Bruk…” Orang tersebut pun jatuh terbaring.

ç==============================================================è

“Ayah,ayah.” Hulawa dengan tergesa-gesa pergi ke ruangan ayahnya. Namun, dia tidak menemui ayahnya dimana pun. Hanya sedikit waktu yang tersisa untuk mewartakan beberapa informasi yang ditemukannya.

Dia pun bergegas untuk keluar ruangan dan menuju ke tempat lain. Belum sempat dirinya memasuki ruangan lain. Jenderal dari negerinya datang dan menghalangi dirinya untuk masuk.

“Jenderal, tolonglah. Aku memiliki hal yang penting untuk kusampaikan .Aku ingin menghentikan peperangan yang akan terjadi.” Ujar Hulawa dengan berusaha mencari celah untuk masuk ke ruangan tersebut.

“Enak saja. Aku yang mencari cara tersebut dengan susah payah dan kamu ingin merusak bagian akhirnya.” Hulawa terpaku mencermati kata-kata yang keluar dari mulut Jenderalnya sendiri.

“Ya Tuhan, jadi pelakunya adalah kau…” Tubuh Hulawa terpaku di tempatnya berdiri sekarang. Waktu terasa berhenti dengan suasana yang tak bisa dijelaskan. Tak disangkanya, pemicu perang itu sendiri berasal dari pimpinan negerinya. Lubuk kalbunya serasa menjadi tak karuan.

Pintu kamar Ilato terbuka lebar-lebar. Tatapan marahnya tidak bisa disembunyikan lagi terhadap Jenderalnya. “Aku sudah mendengar percakapan kalian tadi. Kau ini…” Dengan kemurkaannya, didekatinya Jenderal tersebut.

Hulawa menjadi sedikit lega karena ayahnya telah mengetahui perbuatan bawahannya dengan tepat waktu.             “Pasukan, segera tangkap dia. Dia telah melakukan kudeta terhadapku.” Teriaknya kepada pasukan-pasukannya.

Namun, beberapa  pasukannya tidak menaati perintahnya. “Apa yang terjadi dengan kalian?” Sebaliknya, pasukan-pasukannya malah berbalik menyerang dan bersama-sama menangkap Ilato dan Hulawa.

Ayah dan anaknya tersebut terkejut melihat perubahan sikap dari pasukan negeri mereka. “Katakan apa yang membuat kalian menjadi seperti ini?” Akan tetapi, mereka tetap saja tidak mau membuka mulut mengenai apa yang sebenarnya membuat mereka menjadi orang yang demikian.

Ilato dan Hulawa dibawa ke gunung Tilongkabila untuk dijadikan korban persembahan adat. Hulawa yang sedari tadi ketakutan hanya bisa berharap bahwa Toar tidak mengalami apa-apa.

ç==============================================================è

            Ilato dan Hulawa dibawa menuju ke gunung Tilongkabila oleh seluruh pasukan tanpa diketahui oleh rakyat-rakyat negeri Hulonthalangi. Mereka melakukannya karena tidak ingin rakyat mengetahui hal tersebut. Selain itu, kekuatan rakyat juga lebih banyak dibandingkan dengan pasukan mereka.

Pasukan-pasukan bersiaga di setiap tempatnya. Mereka menjaga agar tempat tersebut tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Upacara adat akan dilangsungkan selama beberapa jam.

Hulawa melihat ke berbagai arah. Beberapa jarak di depannya terdapat api pembakaran. Keadaan yang kini terjadi kian mendesak dan tibalah saatnya untuk salah satu dari ayah dan anak tersebut untuk diupacarakan.

“Berhenti. Cukup sampai disitu.” Seseorang berusaha memberhentikan upacara itu. Tak lama kemudian, beberapa prajurit dari Minahasa mengepung lokasi upacara adat tersebut. Seluruh pasukan Hulonthalangi terkejut karena kedatangan mereka yang tiba-tiba. Dengan begitu, pasukan Hulonthalangi yang lainnya sudah dibekuk oleh prajurit-prajurit dari kerajaan Minahasa.

Toar menyelamatkan Hulawa dan juga Ilato. Dibukanya tali yang mengikat mereka berdua dengan segera. Namun, tak disangkanya Jenderal Hulonthalangi menikam bagian perutnya. Hulawa dan ayahnya terkejut akan hal tersebut.

“Dasar bodoh… Memang benar aku membencimu, tapi itu bukan berarti aku menginginkanmu mati terbunuh dengan cara yang seperti ini.” Hulawa mulai menangis dengan tersedu-sedu melihat Toar yang terbaring lemah.

Anehnya, perutnya Toar tidak bersimbah darah. Hulawa menjadi curiga akan hal itu. Dia mencoba untuk memukul perut Toar.

“Aw… Aw… Jangan dipukul seperti itu. Sakit tahu.” Ringis Toar kepada Hulawa.

“Oh, jadi ternyata kau tega berbohong ya?” Ungkap Hulawa sambil memukul-mukul kembali perutnya. Toar kembali meringis dan bertingkah seperti anak kecil di depannya.

Kini, Jenderal Hulonthalangi yang sebaliknya terkejut. “Ba-Bagaimana bisa?” Dia bertanya-tanya. “Perutku telah kututupi dengan serat kayu dari pohon dan dilapisi dengan daun. Di kerajaanku, hal ini efektif untuk mencegah luka tikam maupun lainnya.” Toar menjelaskan kepadanya dengan tersenyum-senyum.

Jenderal dan pasukan-pasukannya akhirnya ditawan dan dihukum sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Setelah diselidiki, ternyata latar belakang dari jenderal tersebut sangat kelam karena memiliki pandangan yang salah mengenai adat terutama upacara adat.

Selain itu, didapati bahwa pajak-pajak khusus yang dipungut oleh Jenderal digunakan untuk kepentingan pasukan sehingga pasukan lebih memihak kepadanya dibandingkan raja mereka sendiri. Beberapa pasukan pun ternyata hanya mengikuti tingkah pasukan yang lainnya.

Awalnya, mereka berniat untuk menerima uang saja. Namun, mereka merasa bersalah jika tidak ikut membantu. Akhirnya, mereka pun turut ikut ambil alih dalam kudeta itu.

“Toar, bagaimana kau bisa selamat? Setahuku saksi mata itu adalah pembunuh yang sebenarnya.” Hulawa kembali bertanya kepada Toar.

“Entah kenapa, pendapatmu mengenai saksi itu benar. Biasanya kamu lambat.” Toar mengatakannya dengan unsur mengejek.

“Sudahlah. Jawab saja.” Hulawa merengek kepadanya.

Toar menjelaskan bahwa kepergiannya tersebut ternyata telah diketahui oleh para prajurit dari kerajaan Minahasa. Ayahnya pun memerintahkan kepada prajurit-prajuritnya untuk mengawal Toar meskipun dari jauh.

Itulah alasan dia mengapa terus merasa diawasi oleh banyak mata pada saat sebelumnya. Ternyata, ayahnya mengetahui keinginan anaknya yang begitu kuat untuk membuktikan bahwa negeri Hulonthalangi tidak dipimpin oleh orang-orang yang berniat mencemari nama anaknya.

Toar juga menceritakan bahwa pembunuh yang semula menguasai pergerakannya itu dilumpuhkan oleh para prajuritnya yang lain. Dia merasa bersyukur karena bisa selamat dari kejadian yang membahayakan seperti itu.

ç==============================================================è

Beberapa bulan setelah terjadinya kudeta. Di perbatasan Minahasa dan Hulonthalangi yaitu di tepi sungai Bone.

“Mulai hari ini. Tidak ada yang namanya negeri Hulonthalangi dan kerajaan Minahasa. Karena kita semua juga memiliki tali persaudaraan yang erat, maka kita harus bersatu.” Ucapan Kairupan dan Ilato tersebut disambut dengan tepuk tangan yang riuh dari seluruh rakyat mereka.

Seluruh rakyat menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang patut dibanggakan serta kekurangan yang harus diperbaiki satu sama lain. Mereka bisa bertoleransi dan saling menghargai satu sama lain jika memiliki keinginan yang besar dari hati mereka masing-masing.

“Jangan dekat-dekat dengan diriku.” Ucap Hulawa kepada Toar di tengah-tengah tepuk tangan meriah.

“Siapa juga mau dekat? Percaya dirimu sangat tinggi sekali.” Toar mencibir perkataan Hulawa.

“Huh…” Hulawa mengeluh. Beberapa saat kemudian, mereka tertawa bersama-sama. Kairupan dan Ilato hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anak mereka masing-masing.

Toar dan Hulawa juga merasa lucu mengingat pertemuan pertama mereka yang diawali dengan rasa benci. Pertemuan kedua dimana harus dijodohkan dan juga berbagai pertemuan berikutnya yang memancing perasaan dari hati mereka masing-masing. Seperti apa yang dirasakan oleh rakyat, Hulawa dan Toar menerima dan mulai memahami hati satu sama lain masing-masing.

Hal-Hal Seputar Cerpen

 

  • Judul : Toar dan Hulawa
  • Tema : Perjuangan dan Cinta
  • Alur : Alur Kronologis
  • Tokoh dan Perwatakan :
Nama Tokoh Perwatakan
Hulawa Baik hati, ceria, Sulit mengungkapkan perasaan
Toar Gigih, ramah, sulit mengungkapkan perasaan
Ilato Bijaksana tapi mudah terbawa emosi
Kairupan Bijaksana dan tidak mudah mempercayai sesuatu
Jenderal Haus akan perang, fasis karena ingin menguasai
  • Amanat :
  1. Untuk mendapatkan sesuatu, perlu perjuangan
  2. Jangan mudah terbawa emosi
  3. Berusaha untuk menghargai orang lain
  4. Menerima kekurangan dan memperbaiki kekurangan tersebut
  5. Memiliki rasa puas dan menghilangkan nafsu untuk menindas
  • Latar cerpen :
  1. Latar tempat : Sungai Bone, Pusat Kota, Danau Limboto, dll.
  2. Latar waktu : Pagi, Sore, dan Malam hari.
  3. Latar suasana : Kesal, Gembira, Senang, Tegang, Penuh haru.
Categories: Bahasa Indonesia | Tags: | Leave a comment

[Cerpen] Toar dan Hulawa

Annyeong haseyo ^^
Di postingan kali ini, saya mengupload cerpenku mengenai daerah Gorontalo dan Manado.
Memang sih, cerita mengenai kerajaan di masa lampau terkesan kuno, tetapi ketika dipoleskan dengan sedikit unsur roman maupun lainnya. Pastilah hasilnya akan tampak lebih bagus ^^

Waktu tugas untuk membuat cerpen di sekolah sih, aku sempat bingung. “Kira-kira cerpen apa yang akan kubuat?” Nah, tiba-tiba terlintas di benakku untuk membuat sebuah remake dari Nisekoi a.k.a Cinta Palsu yang menceritakan mengenai 2 orang yang saling membenci satu sama lain dan akhrnya terpaksa jadian karena banyak momen yang mendekatkan mereka. Awalnya juga, aku cuma ingin membuat cerita mengenai 2 perusahaan tapi akhirnya aku mengubah latar perusahaan itu menjadi cerita kerajaan. /CURCOL/

nisekoinotbestromcom-1Disadur dari anime Nisekoi yang sedang booming

  Semoga kalian senang, ya ^^
Dan sebarkan supaya cerita ini menjadi melegenda ^^

capture-20141008-222215

Review gambar depannya 😮

Klik salah satu link dibawah 😀

DOC |  PDF

Categories: Bahasa Indonesia, Japanese | Tags: | Leave a comment

[MAKALAH] PROSES PENGOLAHAN TEBU DI PABRIK TOLANGOHULA

Annyeong haseyo ^^
Kali ini, aku menyediakan sebuah contoh makalah buatanku sendiri yang tentunya sangat jauh dengan makalah yang sempurna
Bagi yang malas menggeser kebawah, aku menyediakan link downloadnya.

Arigatou gozaimasu telah membacanya ^^

Download DOC | PDF

capture-20140921-152906 capture-20140921-153237 capture-20140921-154036 capture-20140921-154256 capture-20140921-154351 capture-20140921-154419 capture-20140921-154451 capture-20140921-154509 capture-20140921-154525 capture-20140921-154539 capture-20140921-154557 capture-20140921-154625 capture-20140921-154641 capture-20140921-154657

Categories: Ilmu Pengetahuan Alam | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.